Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

9 Feb

Malam ini saya baru saja pulang setelah menjenguk salah seorang guru SD saya yang beberapa hari yang lalu dioperasi karena penyakit hernia. Kabar tentang diopname nya guru saya tersebut saya dapat secara tidak sengaja, ketika saya melihat news feed  di Facebook, dan melihat wallpost salah seorang teman SD saya yang mengajak untuk menjenguk guru saya tersebut. Karena saya kaget, dan bertanya2 apa yang terjadi dengan guru saya tersebut, saya langsung memutuskan untuk bertanya pada Ibu Wali Kelas saya semasa SD untuk menanyakan kabar tentang guru saya yang sedang di rumah sakit tersebut. Dari Ibu Wali Kelas Saya itulah saya mendapat informasi bahwa benar salah seorang guru saya sekarang sedang diopname di rumah sakit setelah dioperasi hernia. Dan belum sempat saya membalas sms dari Ibu Wali Kelas saya tersebut, hp saya berbunyi, dan terlihat ada satu sms yang ternyata dari guru saya yang sedang diopname tersebut. Mungkin pesannya sederhana, namun jujur saya sangat terharu membaca pesan singkat dari beliau..

Fid, doa’kan bp ya biar cepat sembuh salam buat angkatan fida

Sebuah pesan yang singkat dan sederhana, namun ketika membacanya, saya betul2 menahan diri agar tidak meneteskan air mata di depan mama saya yang ketika itu memang sedang berada di dekat saya. 

 

Masa2 SD mungkin sudah lama berlalu. Sudah hampir 10 tahun saya lulus dari sekolah yang suasananya sangat asri, dan memberikan pengalaman yang sangat berkesan yang akan selalu saya kenang seumur hidup saya. Jika ditanya kedekatan saya dengan teman2 bahkan guru2 saya semasa SD, saya akan menjawab bahwa kami sangat dekat. Amat sangat dekat. Pada saat usia saya 6 hingga menjelang 12 tahun, waktu saya mayoritas dihabiskan di sekolah. Sekolah saya adalah sekolah Islam yang bersistem full day dimana setiap harinya saya masuk pukul 7.30 dan pulang sekolah pada pukul 16.00. Inilah yang menyebabkan saya sangat dekat dengan teman2 dan terutama dengan guru2. Saya masih sangat ingat, ketika SD dulu, saya dan teman2 sering curhat tentang banyak hal kepada guru2 kami. Kami pun sering mengadakan acara kecil2an yang kami organize sendiri dan melibatkan teman2 seangkatan dan juga guru2, misalnya buka puasa bersama di sekolah (dengan membagi “tugas’ makanan apa yang harus dibawa oleh setiap anak), rujakan di sekolah, dan kami bahkan pernah berjalan kaki ditemani -oleh Bapak Guru kami yang saat ini sedang sakit- dari Dago Pakar ke Maribaya, saat usia kami masih sekitar 10 tahun. Kedekatan inilah yang menyebabkan saya selalu rindu untuk berkumpul bersama2, hingga setahun sekali (minimal) saya selalu ingin mengadakan acara buka puasa bersama agar kami tetap menjaga persaudaraan yang telah terbentuk di saat kami semua masih kanak2..

 

Dan ketika hari ini saya bersama 4 orang teman saya menjenguk Bapak Guru saya di Rumah Sakit Hasan Sadikin, kami kembali berbincang2 tentang banyak hal. Kami tertawa bersama2 ketika salah seorang teman saya menceritakan suatu hal yang lucu yang kami lakukan ketika kami masih belajar di satu sekolah yang sama. Saya saaangat rindu masa2 itu. Disela-sela perbincangan, Bapak Guru saya sempat bertanya tentang bagaimana kuliah kami, dan kepada saya dan teman2, Bapak mendoakan agar kami segera lulus, dan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dan kelak menjadi seorang yang sukses. Bapak juga sangat berterima kasih karena kami telah datang. Bapak pun kembali meminta kami mendoakan Beliau agar Beliau segera sehat dan dapat mengajar seperti semula.

 

Ya Allah.., entah saya yang terlalu melankolis, tapi dengan doa yang diucapkan seorang guru kepada muridnya, murid yang ketika SD ia kenal sebagai anak yang nakal, saya amat sangat terharu. Ya Allah.. sehatkanlah guru2 kami. Berilah mereka kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak, sebagai balasan atas segala jasanya kepada kami, atas kasih sayang dan bimbingannya dalam mengajari kami sehingga akhirnya kami bisa menjadi seperti sekarang ini.. Amin ya Allah..

 

Kelas 6b SD Salman Al Farisi Angakatan ke-5 (2000)

 

Terpujilah wahai engkai Ibu Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terimakasihku tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa..


Ketika dulu masih SD saya sering diminta ikut lomba paduan suara dan menyanyikan lagu tersebut, saya tidak merasakan apa2. Tetapi sekarang ini, bertahun2 setelah saya lulus dari sekolah yang memberi saya banyak pengalaman tersebut, saya baru benar2 menyadari bahwa merekalah pahlawan bagi saya. Karena kesabaran merekalah saya bisa menjadi seperti ini.. Allah, terimakasih telah mengizinkan saya untuk mengenal para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Walau mungkin tidak dapat saya ungkapkan secara langsung, saya betul2 sangat menyayangi mereka dan sangat berterimakasih atas segala jasa mereka.. 


Dedicated to all the teachers in the world, thank you for all your patience, your lesson, your guidance. You really are the heroes for us :’) 

Advertisement

2 Responses to “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

  1. venessa February 18, 2011 at 11:10 pm #

    myeeee SD adalah masa-masa keemasan aku daaa
    sedih gini baca blog kamu T_T

  2. FidaFarhana June 19, 2011 at 10:02 pm #

    Halo venessaa.. aku juga sedih deh pas ngetiknyaa xixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.